SELAMAT HARI SUNGAI NASIONAL

Pemerintah Republik Indonesia menetapkan tanggal 27 Juli sebagai Hari Sungai Nasional dalam rangka memberikan motivasi kepada masyarakat agar peduli terhadap sungai. Penetapan tanggal tersebut dilakukan sejak 2011 melalui Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2011 Pasal 74. Berdasarkan peraturan tersebut sungai didefinisikan sebagai alur atau wadah air alami dan/atau buatan berupa jaringan pengaliran air beserta air di dalamnya, mulai dari hulu sampai muara, dengan dibatasi kanan dan kiri oleh garis sempadan.

Sungai bukan hanya sebatas wadah ataupun aliran air saja, sungai memiliki fungsi atau manfaat bagi keberadaan manusia maupun alam. Bagi kehidupan manusia, keberadaan sungai memiliki manfaat sebagai penyedia air dan wadah air untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga, sanitasi lingkungan, pertanian, industri, pariwisata, olah raga, pertahanan, perikanan, pembangkit tenaga listrik, transportasi, dan kebutuhan lainnya. Sementara, bagi kehidupan alam keberadaan sungai memiliki manfaat sebagai pemulih kualitas air, penyalur banjir, dan pembangkit utama ekosistem flora dan fauna.

Keberadaan sungai erat kaitannya dengan Daerah Aliran Sungai (DAS). Menurut Peraturan Pemerintah Nomor 37 Tahun 2012 tentang Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (DAS), DAS merupakan suatu wilayah daratan yang merupakan satu kesatuan dengan sungai dan anak-anak sungainya, yang berfungsi menampung, menyimpan dan mengalirkan air yang berasal dari curah hujan ke danau atau ke laut secara alami, yang batas di darat merupakan pemisah topografis dan batas di laut sampai dengan daerah perairan yang masih terpengaruh aktivitas daratan.

Daerah Aliran Sungai (DAS) seringkali dijadikan sebagai basis perencanaan dan pengelolaan sumber daya alam. Di dalam ekosistem DAS segenap aktivitas kehidupan membentuk pola interaksi antar komponen abiotik, biotik, dan budaya masyarakat bersama-sama menyusun kesatuan ekosistem tersebut. Namun, semakin meningkatnya deforestasi serta degradasi hutan dan lahan menyebabkan dampak terhadap stabilitas ekologi sebagai perlindungan sistem penyangga kehidupan. Beberapa dampak yang nyata adalah sering terjadinya bencana alam seperti banjir, kekeringan, dan tanah longsor. Chomitz dan Nelson (2007) mengemukakan bahwa terdapat hubungan yang erat antara deforestasi, degradasi lahan, dan sistem hidrologi di dalam DAS.

Proses deforestasi yang mengarah pada perubahan tata guna lahan hutan menjadi lahan pertanian intensif menyebabkan kondisi DAS menjadi kritis sehingga ekosistem DAS menjadi rentan terhadap bencana alam seperti tanah longsor, banjir dan kekeringan serta hal tersebut dapat memengaruhi system hidrologis yang telah ada. Adanya bencana alam tersebut nantinya akan berdampak kepada masyarakat sekitar DAS. Sehingga diperlukan upaya dalam upaya-upaya dalam pengelolaan DAS yang dapat dilakukan meliputi: pengelolaan lahan, pengelolaan air termasuk pemeliharaan prasarana pengairan, pengelolaan vegetasi dan pembinaan aktifitas manusia dalam penggunaan sumber daya alam.

Beberapa masalah yang masih sering terjadi pada sungai adalah pencemaran air. Berdasarkan data dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan pada tahun 2019 dari 98 sungai di Indonesia 54 sungai berstatus cemar ringan, 6 sungai cemar ringan-cemar sedang, dan 38 sungai berstatus cemar ringan-cemar berat. Pencemaran air akan membawa dampak yang sangat merugikan bagi lingkungan dan juga kelangsungan hidup dari makhluk hidup itu sendiri. Pencemaran air juga akan berdampak pada kesehatan manusia. Efek yang ditimbulkan tidak terlihat secara langsung, namun dapat membahayakan setelah paparan terjadi untuk jangka panjang. Beberapa penyakit akibat pencemaran air yang dapat menyerang kesehatan manusia yaitu diare, demam berdarah, hepatitis A dan E serta kanker kulit dan kandung kemih.

Masalah yang terjadi pada sungai diatas seiring berjalannya waktu akan mengurangi fungsi dari sungai itu sendiri, baik untuk manusia maupun lingkungan sekitar. Apabila penurunan fungsi sungai terjadi maka manusia akan sangat dirugikan, karena sungai erat kaitannya dengan aktivitas kehidupan manusia. Maka dari itu, masyarakat perlu diajak untuk menjaga aliran sungai supaya terhindar dari bahaya pencemaran air. Selain itu, masyarakat juga perlu mengetahui sebab-akibat yang timbul apabila aliran sungai tidak dikelola dengan semestinya. Keterlibatan partisipasi masyarakat yang paling nyata adalah tidak membuang sampah dan limbah ke aliran sungai serta adanya gerakan peduli sungai dengan program perlindungan alur sungai dan pencegahan pencemaran sungai yang dilakukan oleh masyarakat.

Penulis :

Elsa Widyastuti

 

Referensi :

[PP] Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 38 Tahun 2011 Tentang Sungai. 2011.

[PP] Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 37 Tahun 2012 Tentang Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (DAS). 2011.

Kusbiantoro A, Awang SA, Maryudi A, Gunawan T. 2015. Degradasi dan sistem pengelolaan lahan di Daerah Aliran Sungai Tulis. Jurnal Wartatropika 5(1): 15-25.

Chomitz KM, Nelson A. 2007. The forest-hydrology-poverty nexus in central america: an heuristic analysis. Journal of Environment, Development, and Sustainability : 369-385.

Isrun. 2009. Analisis tingkat kerusakan lahan pada beberapa sub das di kawasan Danau Poso. Media Litbang Sulteng 2 (1) : 67 -74.

Share