Jauh sebelum istilah “adaptasi perubahan iklim” dikenal luas, masyarakat Indonesia sudah terbiasa membaca tanda alam dan menyesuaikan diri dengannya. Kini iklim berubah lebih cepat daripada pengalaman yang diwariskan. Pertanyaannya bukan lagi apakah masyarakat beradaptasi, melainkan apakah adaptasi itu cukup.
Petani lahan tadah hujan di Gunungkidul, Yogyakarta, menjalankan ngawu-awu, praktik bertani yang berpedoman pada pranata mangsa, kalender musim Jawa. Sejak 2000-an, petani semakin sulit menyelaraskan kalender tersebut dengan pola hujan aktual. Pada Oktober 2023, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Yogyakarta menyatakan pranata mangsa tidak lagi dapat menjadi satu-satunya patokan awal tanam.
Sementara di Pulau Palue, Sikka, warga menampung air hujan di bak rumah dan menyuling uap panas bumi dengan bambu petung (Wae Poa) karena ketiadaan mata air. Di Timbulsloko, Demak, sebagian besar warga meninggikan rumah hingga sekitar 1,5 meter dan membangun jalan panggung untuk menghadapi rob. Rob di sana dipicu naiknya muka air laut dan penurunan tanah, antara lain akibat pengambilan air tanah dan rusaknya mangrove.
Namun, risiko iklim berbeda di tiap wilayah. Kajian Pembangunan Berketahanan Iklim (PBI) oleh Bhumi Pasa Hijau (BPH) dan UNDP memetakan risiko serta prioritas adaptasi di empat sektor: kelautan dan pesisir, air, pertanian, serta kesehatan. Demak, tempat Timbulsloko berada, masuk kelas Super Prioritas untuk abrasi pesisir, sedangkan Gunungkidul termasuk Top Prioritas untuk kekeringan sektor air.
Jadi, apakah adaptasi yang sudah dilakukan cukup? Jawabannya: belum tentu. Setiap praktik memiliki batas. Rumah yang ditinggikan tidak menghentikan tanah yang turun. Kalender musim tidak menjamin kapan hujan datang, terlebih ketika pola cuaca semakin sulit diprediksi. Artinya, pengalaman turun-temurun tetap menjadi fondasi, tetapi perlu dilengkapi agar sanggup menghadapi perubahan yang kian cepat.
Bagaimana adaptasi dapat diperkuat? Salah satu contoh datang dari Danau Lido, Cigombong, Kabupaten Bogor, tempat pembudidaya ikan keramba jaring apung menghadapi risiko baru. Cuaca ekstrem dan perubahan suhu mendadak dapat mengangkat air dasar yang miskin oksigen sehingga memicu kematian ikan massal.
BPH mengembangkan Keramba Jaring Apung Rendah Residu (KEJAR) untuk mendorong pembudidaya mengurangi sisa pakan melalui pengaturan waktu dan jumlah pemberian pakan. Pembudidaya belajar menerapkannya, lalu kelompok mereka diperkuat agar pengetahuan itu dapat dijalankan dan dibagikan bersama. Berdasarkan penerapan upaya tersebut, delapan pembudidaya telah mereplikasinya dengan kematian ikan tidak signifikan dan pakan lebih efisien.
Aksi yang Bisa Dimulai
Contoh di atas menunjukkan bahwa adaptasi menguat ketika pengalaman bertemu pengetahuan baru dan didukung kelompok yang kuat. Penguatan serupa dapat dimulai dari langkah sederhana oleh masing-masing pribadi sesuai risiko lingkungan di sekitarnya.
- Kenali risiko wilayah sendiri: cari tahu apakah tempat tinggal atau usaha Anda rawan banjir, longsor, kekeringan, gelombang tinggi, atau penyakit musiman melalui informasi BMKG dan peta risiko pemerintah daerah.
- Padukan pengalaman dengan data dan teknologi: catat tanda alam di sekitar Anda, lalu cocokkan dengan prakiraan cuaca dan peringatan dini dari aplikasi atau kanal resmi sebelum menanam, melaut, membangun, atau bepergian. Pilih teknologi sederhana yang terjangkau dan mudah dipakai bersama.
- Kurangi paparan: hindari membangun di lokasi berbahaya, jaga kebersihan drainase agar tidak memicu genangan, serta simpan cadangan air bersih.
- Kelola air dan lahan sekitar: hemat air dan tanam pohon atau tanaman di pekarangan untuk membantu menjaga resapan air.
- Bergerak bersama: libatkan keluarga, tetangga, kelompok usaha, sekolah, dan komunitas untuk berbagi informasi dan menyusun rencana tanggap darurat, serta sampaikan kebutuhan adaptasi kepada pemerintah daerah.
Adaptasi masyarakat adalah fondasi, bukan garis akhir. Pada Hari Aksi Iklim ini, mulailah dari langkah kecil: periksa peringatan dini cuaca di wilayah Anda, diskusikan risikonya bersama orang terdekat, dan dukung kebijakan yang memperkuat praktik adaptasi lokal agar masyarakat tidak hanya bertahan, tetapi juga berkembang.
Sumber:
- BPH. Legacy of Resilience: Menjaga yang Tersisa, Memulihkan yang Terluka. FPIK IPB, 6 Juni 2026. Sumber untuk KEJAR, delapan penerima manfaat, dan hasil pasca-replikasi.
- Paparan Lokasi Prioritas beserta Aksi Pembangunan Berketahanan Iklim (PBI), Bandung, 3 November 2025.
- Ghofur M. 2024. Persisting pranata mangsa: The challenges of traditional knowledge practices in the era of climate crisis.
- Medcom.id (19 Okt 2023): Sistem Penanggalan Tak Lagi Relevan Tentukan Musim Tanam di DIY, link artikel: Sistem Penanggalan Tak Lagi Relevan Tentukan Musim Tanam di DIY
- Ware Y, Maryani E, Astari AJ. 2026. Kearifan Lokal sebagai Mekanisme Adaptasi terhadap Kekeringan: Studi Sistem Wae Poa pada Masyarakat Pulau Palue. Jurnal Adat dan Budaya, Vol. 8, No.1, pp 167–178.
Penulis: Fauziah Y


