Di tengah perhatian dunia terhadap perubahan iklim, kekeringan menjadi salah satu tantangan bagi Indonesia yang setiap tahunnya mengalami musim kemarau. Meskipun merupakan siklus iklim yang normal, apabila musim kemarau terjadi berkepanjangan dapat meningkatkan resiko terjadinya kekeringan di berbagai wilayah. Kondisi ini kian diperparah dengan adanya fenomena iklim ekstrem seperti El-Nino yang menyebabkan penurunan curah hujan.
El Nino dapat mengurangi pembentukan awan hujan sehingga kondisi menjadi lebih kering. Hingga pertengahan tahun 2026 khususnya pada periode bulan Mei, Juni, dan Juli fenomena El-Nino semakin menguat. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi bahwa fenomena El-Nino akan bertahan hingga kuartal pertama tahun 2027 dengan puncak intensitas lebih dari kategori kuat berdampak pada berkurangnya curah hujan di sebagian wilayah. Kondisi tersebut tercermin pada durasi musim kemarau yang prediksi akan lebih panjang jika dibandingkan dari kondisi normalnya mencakup 437 Zona Musim (ZOM) atau 48,77% luas daratan Indonesia.
Kombinasi antara El-Nino dan musim kemarau akan menyebabkan kekeringan dan mengurangi tingkat kelembaban vegetasi. Dengan kondisi yang lebih kering bertemu dengan lahan yang mudah terbakar akan meningkatkan potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Berdasarkan data dari Kementerian Kehutanan, karhutla di Indonesia periode Januari hingga bulan Juni 2026 mencapai 202.010,96 hektare.

Kejadian kebakaran pada periode ini mengalami lonjakan, melampaui kasus karhutla pada tahun 2019 dan 2023 yang juga bertepatan dengan fenomena El-Nino. Intensitas El-Nino yang berlangsung pada pertengahan tahun 2026, khususnya pada periode Mei–Juli, ditunjukkan oleh nilai Oceanic Nino Index (ONI) yang mencapai 1,4 °C. Nilai tersebut lebih tinggi dibandingkan dengan nilai ONI pada keseluruhan periode tahun 2019. Selain itu, berbeda dari tahun 2023 yang intensitas kuatnya baru muncul di akhir tahun, kondisi El-Nino tahun 2026 justru masuk ke tingkat moderate lebih awal. Sebagaimana dilansir Kompas.com, Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, menjelaskan bahwa fenomena El-Nino 2026 datang lebih cepat dari siklus normal empat tahunan akibat anomali iklim serta dampak perubahan iklim global. Kondisi tersebut menjadi salah satu faktor penyebab ancaman karhutla tahun ini relatif lebih cepat.

Sejalan dengan data Kementerian Kehutanan, pemantauan melalui NASA Fire Information for Resource Management System (FIRMS) per 26 Agustus 2026, menunjukkan bahwa titik panas (hotspot) atau terdeteksi di berbagai wilayah Indonesia. Sebaran titik tersebut terlihat cukup luas terutama di Kalimantan, Nusa Tenggara Timur dan Nusa Tenggara Barat, Sulawesi, serta sebagian Pulau Sumatera bagian selatan dan Pulau Jawa bagian timur.

Provinsi Kalimantan Barat yang menjadi wilayah dengan luas area karhutla terbanyak tahun 2026 mencapai 38.310,86 hektar. Secara historis dalam kurun waktu 2018-2025 hampir setiap tahunnya mengalami karhutla. Kasus terparah yang tercatat dalam delapan tahun terakhir terjadi pada tahun 2019, dan tahun 2023. Karhutla yang terjadi, juga berkaitan dengan lanskap jenis tanah yang rentan. Sekitar 4,5 juta hektare lahan di kalimantan merupakan tanah gambut (Pantau Gambut 2026). Namun, alih fungsi lahan dan pembuatan saluran drainase di sekitar area tersebut justru menurunkan muka air tanah. Akibatnya, pengeringan dan oksidasi bahan organik terjadi lebih cepat, menjadikan gambut amat mudah terbakar saat kondisi kering. Oleh karena itu, efektivitas mitigasi serta tata kelola lahan akan menjadi kunci utama dalam membatasi sebaran dan durasi kebakaran.
Pada akhirnya, karhutla di musim kemarau bukan sekedar bencana alam biasa, melainkan dampak nyata dari perubahan iklim yang diperparah oleh belum optimalnya kelola lahan. Menjaga kelembaban gambut dan memperkuat kesiapsiagaan di wilayah-wilayah rawan adalah langkah krusial agar ancaman kekeringan ini tidak berujung pada krisis lingkungan yang lebih parah.
Daftar Pustaka:
Dian I. 2026. Karhutla Indonesia 2026: Mengapa Luas Kebakaran Melonjak pada Juli Hingga Agustus?. https://www.suara.com/news/2026/08/25/131500/karhutla-indonesia-2026-mengapa-luas-kebakaran-melonjak-pada-juli-hingga-agustus.
Direktorat Pengendalian Kebakaran Hutan, Kementerian Kehutanan. (2026). Indikasi luas kebakaran. SiPongi+ Sistem Pemantauan Karhutla. https://sipongi.gakkum.kehutanan.go.id/indikasi-luas-kebakaran.
Ginting FI, Fiantis D. (2026). Karhutla Kalimantan adalah drama berulang akibat kegagalan kita melindungi tanah. The Conversation. https://theconversation.com/karhutla-kalimantan-adalah-drama-berulang-akibat-kegagalan-kita-melindungi-tanah-290304.
NASA FIRMS. (2026). Fire Information for Resource Management System (FIRMS). National Aeronautics and Space Administration. https://firms.modaps.eosdis.nasa.gov/map/.
NOAA Climate Prediction Center. Oceanic Niño Index (ONI):
Historical El Niño / La Niña episodes (1950–Present). (2026). https://www.cpc.ncep.noaa.gov/products/analysis_monitoring/enso/oni/v6/.
Pantau Gambut. (2026). Peta gambaran umum: Sebaran gambut di Indonesia. https://pantaugambut.id/peta-gambut/.
Priyambodo U, Ade S. 2026. Indonesia Membara: Mengapa Kebakaran Hutan Terus Berulang?. https://nationalgeographic.grid.id/read/134406249/indonesia-membara-mengapa-kebakaran-hutan-terus-berulang?page=all.
Prasetyaningtyas K. (2026). https://www.bmkg.go.id/iklim/prediksi-musim/prediksi-musim-kemarau-tahun-2026-di-indonesia.
Wiryono S. 2026. BMKG Ungkap Penyebab El Nino 2026 Datang Lebih Cepat dan Berpotensi Sangat Kuat. https://nasional.kompas.com/read/2026/08/05/07380091/bmkg-ungkap-penyebab-el-nino-2026-datang-lebih-cepat-dan-berpotensi-sangat.
Zahro AA. (2026). Musim Kemarau di bawah Normal dan El Niño Kuat, BMKG Gencarkan Modifikasi Cuaca dan dukung Mitigasi Lintas Sektor. https://www.bmkg.go.id/siaran-pers/musim-kemarau-di-bawah-normal-dan-el-nino-kuat-bmkg-gencarkan-modifikasi-cuaca-dan-dukung-mitigasi-lintas-sektor.


