Dari energi hingga militer — siapa sebenarnya yang paling bertanggung jawab atas emisi bumi kita?
Setiap 22 April, dunia seakan diajak untuk berhenti sejenak dan melihat kembali hubungan kita dengan bumi. Tanah yang kita pijak, udara yang kita hirup, dan air yang kita gunakan setiap hari. Dengan tema tahun ini adalah “Our Power, Our Planet”, semakin terasa relevan. Pesannya sederhana, tetapi kuat: kita memiliki kendali, dan bumi adalah tanggung jawab bersama. Namun, di balik itu, ada pertanyaan penting yang perlu dijawab: sejauh ini, bagaimana kita menggunakan “kekuatan” tersebut?
Data menunjukkan tren yang semakin mengkhawatirkan. Emisi gas rumah kaca global terus meningkat dan mencapai 37,4 miliar ton CO2 ekuivalen pada 2023, menjadi yang tertinggi dalam sejarah modern. Menurut laporan World Meteorological Organization (WMO), konsentrasi CO2 global melonjak hingga +424 ppm pada 2024, dengan kenaikan tahunan terbesar sejak 1957.
Laporan iklim global yang diterbitkan oleh National Centers for Environmental Information NOAA menunjukkan bahwa 2024 merupakan tahun terpanas sejak pencatatan global tahun 1850, dengan suhu 1,46°C di atas rata-rata masa pra-industrial (1850–1900) yakni 13,7°C. Bahkan, jika dibandingkan dengan dengan suhu rata-rata di abad ke-20, kenaikannya mencapai 1,29°C. Menurut IPCC, emisi perlu ditekan sebesar 43% dari level 2019 sebelum 2030 agar pemanasan global tetap di bawah 1,5°C. Untuk memahami ke mana arah perubahan harus didorong, kita perlu melihat dari mana sumber masalahnya, sektor demi sektor, tanpa pengecualian.
Peta Emisi: Siapa Berbuat Apa
Emisi global tidak berasal dari satu sumber tunggal. Ia adalah hasil akumulasi dari berbagai sektor yang saling terkait dan masing-masing membawa tanggung jawabnya sendiri.
Energi dan listrik adalah kontributor terbesar, menyumbang sekitar 34% dari total emisi global. Pembakaran batu bara, minyak, dan gas untuk menghasilkan listrik dan panas adalah warisan dua abad industrialisasi yang belum sepenuhnya kita tinggalkan. Meski kapasitas energi terbarukan tumbuh pesat, transisi ini belum cukup cepat untuk mengimbangi pertumbuhan permintaan energi global yang terus meningkat.
Pertanian dan penggunaan lahan menyumbang sekitar 22%. Ini mencakup emisi metana dari peternakan sapi, dinitrogen oksida dari penggunaan pupuk, serta CO2 dari deforestasi dan perubahan fungsi lahan. Ironi terbesar di sektor ini: hutan-hutan yang seharusnya menjadi penyerap karbon justru dibakar dan ditebang untuk membuka lahan pertanian baru, mengubah carbon sink menjadi carbon source dalam satu gerakan.
Industri dan manufaktur berkontribusi sekitar 21%. Produksi semen, baja, aluminium, dan bahan kimia membutuhkan suhu sangat tinggi yang hingga kini sebagian besar masih mengandalkan bahan bakar fosil. Ini bukan ketidakmauan untuk berubah semata. Dekarbonisasi industri berat adalah salah satu tantangan teknis paling kompleks dalam transisi iklim global.
Transportasi menyumbang sekitar 16% dari emisi global, dengan penerbangan dan pelayaran internasional sebagai dua subsektor yang pertumbuhannya paling sulit dikendalikan. Kendaraan listrik mulai mengubah lanskap transportasi darat. Namun, untuk udara dan laut solusi berskala besar masih dalam tahap pengembangan.
Bangunan dan konstruksi menyumbang sekitar 6%. Sebagian besar dari sistem pemanas, pendingin, dan pencahayaan yang masih bergantung pada listrik berbasis fosil. Efisiensi energi bangunan adalah salah satu solusi dengan rasio biaya-manfaat terbaik yang tersedia saat ini, namun adopsinya masih terlalu lambat di banyak negara berkembang.
Setiap sektor punya ceritanya sendiri dan setiap cerita berakhir dengan pertanyaan yang sama: sudah cukup seriuskah kita meresponsnya?
Satu Sektor yang Nyaris Tidak Pernah Disebut
Ada satu sektor yang jarang masuk dalam percakapan iklim mainstream, padahal kontribusinya tidak kecil yaitu sektor militer dan pertahanan. Estimasi menunjukkan sektor ini menyumbang sekitar 5,5% dari total emisi global—setara dengan lebih dari 2 miliar ton CO2 ekuivalen setiap tahun. Sebagai perbandingan, angka tersebut bahkan melampaui total emisi tahunan seluruh negara di Afrika Sub-Sahara yang dihuni lebih dari satu miliar penduduk.
Yang membuat isu ini semakin penting bukan hanya besarnya angka, tetapi juga minimnya transparansi. Berbeda dengan sektor lain, emisi militer tidak diwajibkan dilaporkan secara komprehensif dalam kerangka internasional seperti Protokol Kyoto maupun Paris Agreement. Dalam proses negosiasi iklim global, sektor ini memperoleh pengecualian yang hingga kini jarang menjadi sorotan publik.
Beberapa fakta berikut dapat membantu memberikan gambaran yang lebih utuh.
YANG TIDAK PERNAH ADA DI TABEL LAPORAN IKLIM
- Militer Amerika Serikat mengonsumsi lebih dari 85 juta barel bahan bakar setiap tahun, menjadikannya salah satu entitas dengan konsumsi energi fosil terbesar di dunia. Jika diposisikan sebagai negara, emisinya akan menempatkannya di jajaran 50 besar penghasil emisi global.
- Satu jet tempur F-35 dapat membakar sekitar 5.600 liter bahan bakar per jam. Dalam satu misi empat jam, emisi yang dihasilkan setara dengan perjalanan mobil berbahan bakar bensin sejauh lebih dari 100.000 kilometer.
- Belanja militer global pada 2025 mencapai $2,7 triliun (Stockholm International Peace Research Institute), dan tidak satu sen pun dari anggaran itu yang secara resmi diperhitungkan dalam neraca iklim global.
- Di tingkat individu, berbagai upaya seperti menggunakan lampu hemat energi, mengurangi plastik sekali pakai, atau mengatur pola konsumsi tetap penting. Namun, dampaknya tidak sebanding dengan keputusan operasional di tingkat industri atau pertahanan yang memiliki skala emisi jauh lebih besar.
- Konflik bersenjata tidak hanya menghasilkan emisi langsung, tetapi juga merusak ekosistem penyerap karbon, seperti hutan dan lahan produktif. Dalam hal ini, perang berperan sekaligus sebagai sumber emisi dan perusak penyerap karbon.
Dampak konflik militer juga meluas ke aspek lingkungan secara signifikan. Contohnya pada kasus konflik di Gaza, emisi karbon dalam 60 hari diperkirakan mencapai 281.000–450.000 ton CO2 ekuivalen yang setara dengan emisi tahunan sebuah pembangkit listrik tenaga batu bara. Proses rekonstruksi pascakonflik bahkan dapat menambah emisi hingga jutaan ton CO2. Secara keseluruhan, sektor militer global diperkirakan menyumbang sekitar 5,5% emisi gas rumah kaca dunia, meskipun kontribusi ini kerap tidak tercantum dalam pelaporan formal seperti Paris Agreement.
“Our Power” dan Pertanyaan yang Lebih Besar
Ada ketidakseimbangan mendasar dalam cara kita mendistribusikan tanggung jawab iklim. Negara-negara berkembang dengan kontribusi emisi historis yang relatif kecil dan tingkat kerentanan yang lebih tinggi justru menghadapi tekanan terbesar untuk bertransisi cepat. Sementara itu, aktor dengan jejak karbon besar, termasuk yang berada di luar radar pelaporan resmi, masih bergerak dengan ritme yang tidak selalu sejalan dengan urgensi krisis.
Tema Our Power, Our Planet pada Hari Bumi 2026 menjadi relevan jika dimaknai sebagai ajakan untuk benar-benar menggunakan kekuatan yang ada. Kekuatan teknologi untuk mempercepat energi terbarukan, kekuatan regulasi untuk menutup celah akuntabilitas, serta kekuatan kolektif untuk mendorong transparansi di semua sektor.
Di balik seluruh pembahasan tentang angka dan sektor, ada satu prinsip yang tidak berubah: Bumi tidak mengenal pengecualian. Setiap ton karbon yang dilepaskan, semuanya diterima atmosfer dengan perlakuan yang persis sama.
Dengan sumber emisi dan aktor kunci yang semakin jelas, pertanyaannya bergeser dari “siapa yang bertanggung jawab” menjadi “siapa yang bersedia bertindak lebih cepat dan terbuka”. Bumi tidak bisa menunggu, dan pemulihan tidak akan terjadi dengan sendirinya, ia bergantung pada keputusan yang kita ambil hari ini.
Sumber:
Ailesh Research Institute. (2024). Konflik Iran-Israel-AS: Ancaman Nyata bagi Krisis Iklim dan Net Zero Emission. https://www.ailesh.id/latest/konflik-iran-israel-as-ancaman-nyata-bagi-krisis-iklim-net-zero-emission
Crawford, N. C. (2022). Pentagon Fuel Use, Climate Change, and the Costs of War. Brown University Costs of War Project. https://watson.brown.edu/costsofwar/
Intergovernmental Panel on Climate Change. (2022). Climate Change 2022: Mitigation of Climate Change — AR6 Working Group III. https://www.ipcc.ch/report/ar6/wg3/
Monika M dan Utomo YW. 2025. Konsentrasi CO2 Naik Tertinggi Sejak 1957, Krisis Iklim Kian Serius. https://lestari.kompas.com/read/2025/10/16/170900186/konsentrasi-co2-naik-tertinggi-sejak-1957-krisis-iklim-kian-serius
National Geographic Grid Indonesia. (2024). Jejak Karbon Militer: Monster Tersembunyi di Balik Eskalasi Perang Iran. https://nationalgeographic.grid.id/read/134358056/
NOAA National Centers for Environmental Information, Monthly Global Climate Report for Annual 2024, published online January 2025, retrieved on April 20, 2026 from https://www.ncei.noaa.gov/access/monitoring/monthly-report/global/202413. DOI: https://www.ncei.noaa.gov/access/metadata/landing-page/bin/iso?id=gov.noaa.ncdc:C00672
NOAA Global Monitoring Laboratory. (2024). Trends in Atmospheric Carbon Dioxide. https://gml.noaa.gov/ccgg/trends/
Stockholm International Peace Research Institut. (2025). SIPRI Annual Review 2025. https://www.sipri.org/sites/default/files/SIPRI%20Annual%20Review%202025.pdf
United Nation Environment Programme. (2022). Conflict and the Environment: Assessing the Environmental Consequences of Armed Conflict. https://www.unep.org/
World Meteorogical Organization. (2026). State of the Global Climate 2025. https://wmo.int/publication-series/state-of-global-climate/state-of-global-climate-2025


