Setiap tanggal 7 September, dunia memperingati Hari Udara Bersih Internasional untuk Langit Biru (International Day of Clean Air for Blue Skies) sebagai momentum untuk meningkatkan kesadaran akan pentingnya udara bersih bagi kesehatan manusia, ekosistem, dan pembangunan berkelanjutan. Ironisnya, perayaan tahun ini di Indonesia justru berlangsung di tengah krisis kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang kembali menyelimuti sejumlah wilayah, khususnya di Kalimantan. Alih-alih menikmati langit biru, masyarakat di berbagai daerah harus berhadapan dengan udara yang tidak sehat, bahkan berbahaya bagi kesehatan.
Kualitas Udara yang Memburuk Akibat Karhutla


Sumber: IQAir 05/09/2026
Berdasarkan data spasial pemantauan kualitas udara oleh IQAir per 5 September 2026, terlihat bahwa wilayah-wilayah dengan kasus karhutla yang tinggi memiliki kualitas udara yang tidak sehat, bahkan berbahaya. Sebagaimana dilansir oleh Detik.com, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengungkapkan bahwa kualitas udara di sejumlah wilayah Kalimantan masih berada pada level berbahaya akibat karhutla yang terus berlangsung.

Sumber: IQAir 05/09/2026
Data real-time IQAir per 5 September 2026 mencatat Palangkaraya sebagai kota dengan indeks kualitas udara terburuk di Indonesia, dengan nilai indeks mencapai 460 — angka yang masuk dalam kategori berbahaya. Semakin tinggi nilai indeks tersebut, semakin tinggi pula tingkat polusi udara dan semakin besar potensi dampak buruknya terhadap kesehatan masyarakat, mulai dari gangguan pernapasan akut hingga risiko jangka panjang bagi kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, dan penderita penyakit pernapasan.
Karhutla dan Indeks Kualitas Lingkungan Hidup (IKLH)
Kondisi tersebut kemudian menimbulkan pertanyaan lebih luas: bagaimana sesungguhnya karhutla memengaruhi kualitas lingkungan hidup secara menyeluruh, bukan hanya kualitas udara semata? Salah satu instrumen yang dapat digunakan untuk menjawab pertanyaan ini adalah Indeks Kualitas Lingkungan Hidup (IKLH), yang disusun dari tiga indikator utama, yaitu Indeks Kualitas Udara (IKU), Indeks Kualitas Tutupan Lahan (IKTL), dan Indeks Kualitas Air (IKA).
Karhutla berdampak langsung terhadap ketiga indikator tersebut secara berantai. Pertama, saat kebakaran terjadi, emisi partikulat dan gas polutan terlepas ke atmosfer dalam jumlah besar. Konsentrasi polutan yang tinggi ini menekan nilai capaian IKU di wilayah-wilayah terdampak. Kedua, luasnya hutan dan lahan yang terbakar menyebabkan hilangnya tutupan vegetasi secara masif, yang pada gilirannya berdampak negatif terhadap nilai kumulatif IKTL. Ketiga, hilangnya vegetasi membuat lapisan tanah menjadi lebih rentan terhadap erosi ketika hujan turun; sisa abu kebakaran dan sedimen erosi yang terbawa ke badan sungai meningkatkan kekeruhan air serta memperburuk parameter fisik-kimia perairan, yang pada akhirnya menurunkan nilai IKA.
Dengan demikian, karhutla tidak hanya merusak satu aspek lingkungan, melainkan menekan ketiga pilar penyusun IKLH secara bersamaan — sebuah gambaran yang menegaskan bahwa dampak kebakaran hutan bersifat sistemik dan lintas media lingkungan (udara, lahan, dan air). Dalam konteks penyusunan indikator ini, PT Bhumi Pasa Hijau memiliki rekam jejak dan kontribusi strategis, khususnya dalam penyusunan dokumen IKLH tahun 2020 dan 2021, yang turut memperkuat basis data dan metodologi pemantauan kualitas lingkungan hidup di Indonesia.

Dokumentasi bhumi pasa hijau dalam penyusunan dokumen IKLH
Momentum untuk Bertindak
Peringatan Hari Udara Bersih Internasional tahun ini semestinya menjadi pengingat sekaligus momentum untuk memperkuat komitmen bersama dalam mencegah dan mengendalikan karhutla. Upaya pencegahan, pengawasan yang konsisten, serta pengelolaan lahan yang berkelanjutan menjadi langkah penting untuk mengurangi risiko karhutla di masa depan — terutama di tengah kondisi iklim global yang semakin tidak menentu dan berpotensi memperpanjang musim kemarau serta meningkatkan kerentanan terhadap kebakaran. Tanpa langkah kolektif dan berkelanjutan dari pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat, cita-cita menghadirkan langit biru dan udara bersih bagi seluruh rakyat Indonesia akan terus tertunda oleh kabut asap yang berulang setiap tahunnya.
Daftar Pustaka
- Afriandita, Z. P. (2026, 22 Agustus). Apa itu Karhutla? Ini penyebab, dampak, dan cara mencegahnya. RRI.co.id. https://rri.co.id/regional/2672291/apa-itu-karhutla-ini-penyebab-dampak-dan-cara-mencegahnya
- Winarsih, M. (2019, 7 Oktober). Kabut asap berdampak terhadap perekonomian. MMCKalteng. https://mmc.kalteng.go.id/berita/read/8509/kabut-asap-berdampak-terhadap-perekonomian
- BPBD Kabupaten Klaten. (2025, 15 Oktober). Kenali Karhutla: Pahami penyebabnya, cegah dampaknya! https://bpbd.klaten.go.id/kenali-karhutla-pahami-penyebabnya-cegah-dampaknya
- Greenpeace Indonesia. Kebakaran hutan dan lahan. https://www.greenpeace.org/indonesia/kampanye/hutan/kebakaran-hutan-dan-lahan/
- Pantau Gambut. https://pantaugambut.id/pelajari/dampak
- Muliawati, A. (2026, 3 September). Kualitas udara Kalbar masih bahaya, jarak pandang di bawah 1 km. detikNews. https://news.detik.com/berita/d-8646932/kualitas-udara-kalbar-masih-bahaya-jarak-pandang-di-bawah-1-km
- Kementerian Kehutanan. Indikasi luas kebakaran. SiPongi+. https://sipongi.gakkum.kehutanan.go.id/indikasi-luas-kebakaran
- IQAir. Peta kualitas udara interaktif. https://www.iqair.com/id/air-quality-map


