BANJIR SOFIFI YANG BERULANG: HULU TERBUKA, HILIR TERENDAM

Desember 2025, perjalanan kami dimulai pada dini hari, meninggalkan gelap malam menuju timur Indonesia. Maluku Utara menjadi tujuan, sebuah provinsi yang sejarahnya lekat dengan rempah-rempah dan jalur perdagangan dunia. Ternate, yang kerap dijuluki “Kota Rempah”, menjadi pintu masuk sebelum kami melanjutkan perjalanan ke Sofifi, Ibu Kota Provinsi Maluku Utara yang berada di wilayah Kota Tidore Kepulauan. Kunjungan ini merupakan bagian dari rangkaian validasi lapangan dalam proyek Academic Study for Enhancing Climate Resilience and Action, yang menelaah upaya pembangunan berketahanan iklim pada empat sektor prioritas, yaitu Kelautan dan Pesisir, Air, Pertanian, serta Kesehatan.

Di lapangan, persoalan banjir muncul sebagai isu strategis pada sektor air dan menjadi benang merah yang menghubungkan berbagai cerita warga dengan temuan teknis. Banjir tidak lagi dipersepsikan sebagai kejadian musiman, melainkan telah menjadi bagian dari keseharian masyarakat, baik di Ternate maupun di Sofifi. Warga menuturkan bahwa hujan deras hampir selalu berujung pada genangan.

Kelurahan Guraping, Kecamatan Oba Utara, menjadi salah satu titik perhatian kami. Observasi awal di bagian hilir sungai menunjukkan adanya pendangkalan yang cukup signifikan. Badan sungai tampak dangkal dan dipenuhi endapan material, sehingga kapasitas sungai dalam menampung debit air sangat terbatas. Kondisi ini menjelaskan mengapa hujan dengan durasi relatif singkat kerap langsung memicu banjir. Kepala kelurahan setempat menuturkan bahwa hampir setiap hujan selalu diikuti oleh kejadian banjir. Di wilayah yang terdampak lebih parah, seperti Dusun Toburo di Desa Kusu, hujan deras selama sekitar satu jam saja sudah cukup untuk menyebabkan banjir setinggi dada orang dewasa.

Wilayah Sungai yang Mengalami Pendangkalan

Untuk menelusuri sumber utama sedimentasi yang memicu banjir, dilakukan analisis spasial awal secara sederhana dengan memanfaatkan citra Google Maps saat observasi lapangan berlangsung. Dari penelusuran tersebut, teridentifikasi adanya areal terbuka yang cukup luas di bagian hulu Sungai Ake Toburo, Guraping. Temuan ini menjadi indikasi awal bahwa degradasi tutupan lahan di wilayah hulu berpotensi kuat berkontribusi terhadap meningkatnya akumulasi sedimen di bagian hilir sungai.

Di sepanjang tepi sungai, sebenarnya telah dipasang bronjong sebagai upaya pengamanan. Namun, efektivitasnya belum maksimal karena tidak menyentuh akar persoalan. Sumber utama masalah bukan semata erosi tebing sungai di hilir, melainkan suplai sedimen yang terus-menerus datang setiap kali hujan turun.  

Setelah kembali dari Maluku Utara, saya bersama tim Bhumi Pasa Hijau melanjutkan analisis spasial secara lebih mendalam dengan memanfaatkan data penginderaan jauh multitemporal, khususnya citra Sentinel-2A. Hasil analisis perubahan tutupan lahan menunjukkan dinamika yang signifikan. Pada tahun 2017, wilayah hulu Sungai Ake Toburo masih didominasi oleh vegetasi rapat yang berfungsi optimal dalam menahan air hujan dan mengurangi aliran permukaan. Kondisi ini tercermin dari visualisasi citra yang masih homogen berwarna hijau.

Namun, perubahan mencolok mulai terjadi pada tahun 2018, ketika pembukaan lahan dalam skala cukup luas teridentifikasi di bagian hulu. Hilangnya tutupan vegetasi ini mengakibatkan perubahan drastis pada respon hidrologis daerah aliran sungai (DAS). Air hujan yang sebelumnya tertahan dan meresap ke dalam tanah, kini langsung mengalir di permukaan sebagai aliran limpasan (runoff). Akibatnya, energi aliran meningkat tajam dan mulai menggerus tanah permukaan secara masif.

Perubahan Tutupan Lahan Daerah Tangkapan Air Sungai Ake Toburo, Kelurahan Guraping, Maluku Utara

Combination of natural color (4-3-2) and agriculture (12-8-2) bands of Sentinel 2A Copernicus satellite imagery

Dampak lanjutan dari proses ini terlihat jelas pada tahun-tahun berikutnya. Pada citra tahun 2022, badan Sungai Ake Toburo dan area di sekitarnya mulai tampak semakin terbuka. Sempadan sungai yang sebelumnya masih tertutup vegetasi perlahan terkikis. Kondisi ini sangat mungkin dipicu oleh kombinasi antara debit air yang meningkat saat hujan berintensitas tinggi dan suplai material sedimen dari hulu. Debit aliran yang melampaui kapasitas alami sungai menyebabkan erosi lateral, memperlebar alur sungai, sekaligus merusak kestabilan tebingnya.

Proses degradasi ini berlangsung secara berulang dan terakumulasi dari tahun ke tahun. Hingga periode 2022–2024, kondisi badan sungai terlihat terbuka secara merata di sepanjang jalur aliran, menandakan bahwa sistem sungai telah kehilangan kemampuan alaminya untuk menstabilkan diri. Material hasil erosi dan longsoran dari hulu terus terangkut dan akhirnya mengendap di bagian tengah hingga hilir sungai. Akumulasi sedimen inilah yang menyebabkan pendangkalan, memperkecil kapasitas tampung sungai, dan secara langsung meningkatkan risiko banjir saat terjadi hujan.

Meskipun pada tahun 2024 tutupan vegetasi di wilayah hulu mulai menunjukkan tanda-tanda pemulihan, kerusakan yang telah terjadi pada badan sungai tidak serta-merta pulih. Kondisi tutupan lahan yang belum optimal masih memicu erosi dan longsoran tanah, terutama pada peristiwa hujan ekstrem yang semakin sering terjadi akibat perubahan iklim. Tanpa upaya pemulihan DAS yang menyeluruh dan berbasis ekosistem, siklus erosi–sedimentasi ini akan terus berulang dan menempatkan wilayah hilir dalam kondisi rawan banjir yang kronis.

Dampak banjir tidak berhenti pada genangan semata. Banjir berulang turut memukul sektor pertanian dan perekonomian warga. Sebagian besar masyarakat Guraping dan sekitarnya menggantungkan hidup pada pertanian kelapa dan pala. Banjir menyebabkan gagal panen, mengganggu aktivitas produksi, serta melemahkan ketahanan ekonomi rumah tangga.

Jejak aktivitas masa lalu turut memberi andil pada kondisi lingkungan saat ini. Warga menyebutkan bahwa kegiatan penebangan kayu oleh perusahaan kayu bulat pernah berlangsung di wilayah hulu. Meskipun aktivitas tersebut telah berhenti, dampak degradasi lahan masih terasa hingga kini, terutama dalam bentuk longsoran dan sedimentasi yang belum tertangani secara menyeluruh. Namun, berdasarkan hasil analisis spasial, pembukaan lahan dalam luasan besar diduga berkaitan dengan aktivitas pertambangan, yang semakin mempercepat degradasi tutupan lahan.

Bapak WS, Kepala Dusun Toburo, mengungkapkan bahwa pengerukan sungai pernah dilakukan oleh dinas terkait sebagai upaya penanganan. Namun, langkah tersebut belum memberikan hasil yang berkelanjutan, karena sedimentasi kembali terjadi dalam waktu relatif singkat. Penanganan banjir di Guraping dan sekitarnya membutuhkan kerja sama lintas organisasi perangkat daerah, mulai dari pengelola kawasan hutan dan taman nasional, Balai Wilayah Sungai, Dinas Pekerjaan Umum, hingga pemerintah desa. Pemulihan tutupan lahan melalui penanaman kembali di wilayah hulu, disertai pengerukan sedimentasi secara berkala di bagian hilir, menjadi langkah rekomendasi yang perlu dijalankan secara konsisten.

Dari Sofifi, rangkaian cerita ini mengingatkan bahwa infrastruktur fisik semata tidak cukup untuk menghadapi tantangan iklim dan degradasi lingkungan. Tanpa pemulihan ekosistem di wilayah hulu dan badan sungai, serta tanpa koordinasi kelembagaan yang kuat, tanggul dan bronjong hanya akan menjadi saksi bisu dari banjir yang terus berulang.

Bagikan Cerita:

Facebook
LinkedIn
WhatsApp

Author:

Other Stories: